Warga Karangan Kubar Gotong Royong Tanam Padi

Memasuki musim berladang, tanam padi/nugal, budaya sempekat/gotong royong masih dipegang teguh warga Kampung Karangan, Kecamatan Mook Manaar Bulatn. Secara bergiliran, masyarakat bersama-sama menanam padi di ladang sampai selesai.

Kepala Adat Kampung Karan Perasi  menuturkan, budaya sempekat dalam bahasa Dayak Tunjung memiliki arti yang sangat luas.

Bukan hanya gotong royong dibidang pertanian, membangun rumah warga, membantu warga yang sakit, dalam acara pesta maupun acara duka, tapi meliputi  semua hal.

Budaya sempekat bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Kubar tetapi menjadi salah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia dipuji oleh bangsa lain, karena budayanya yang unik dan penuh toleransi. Budaya sempekat inilah yang terus dipupuk oleh Pemkab Kubar.

Perasi menambahkan, sesuai arahan Pemkab Kubar agar masyarakat dimasa pandemi ini melakukan antisipasi pangan, maka masyarakat diimbau berladang dan berkebun.

“Sebagai tokoh di kampung, saya mengajak masyarakat untuk terus berladang menanam padi, dan rata-rata saat ini masyarakat di kampung Karangan berladang gunung dan ada juga berladang menanam padi di sawah,” ujarnya.

Lebih lanjut Perasi  menjelaskan, era globalisasi melahirkan corak kehidupan yang sangat kompleks dan bisa menggerus dan menghilangkan budaya sempekat karena masyarakat berpikir lebih individualis. Untuk itu, budaya sempekat harus tetap dipelihara dan terus dikembangkan.

Dalam kegiatan nugal, kaum pria sibuk menugal/membuat lubang benih dan para wanita menanam bibit/benih padi ke dalam lubang.

Selain menaman padi, warga juga menanam Jagaq yang merupakan tanaman  Khas Kubar.  Dalam bergotong royong, semua orang yang hadir ambil bagian. Mereka ingin melayani dan meringankan beban sesama warga.

Indonesia merdeka, kata Perasi, karena adanya semangat sempekat. Namun setelah reformasi, semangat tersebut mulai ditinggalkan. Penyebabnya adalah penggunaan uang sebagai tolok ukur yang cukup untuk partsipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.

Maka itu, budaya sempekat harus terus digalakkan. “Kita tidak ingin kebersamaan diwakili dengan uang. Tidak hadir ronda cukup bayar denda. Tidak hadir dalam pertemuan cukup titip uang iuran. Tidak ikut kerja bakti cukup memberi sumbangan,” ujarnya.

Yang masih mempertahankan budaya sempekat hanya masyarakat kampung. “Semoga melalui masyarakat di kampung-kampung yang masih mepertahankan budaya sempekat, mampu menjadi penjaga pilar pancasila dengan semangat kegotong royongan.

Begitu pula dalam upaya memutus mata rantai covid-19, diharapkan masyarakat bergotong royong mentaati protokol kesehatan,” tambahnya.(hms)