Teknologi blockchain di Industri Pangan Halal

Sejak tahun 2018, mulai diperkenalkan teknologi baru yang digunakan dalam sistem produk halal. Teknologi tersebut adalah teknologi blockchain, yang dapat digunakan untuk melacak asal usul komponen produk mulai dari pasca panen hingga ke tangan konsumen.

Blockchain sederhananya adalah basis data global online—yang bisa dipakai siapa saja di seluruh dunia yang terkoneksi internet. Tak seperti basis data lain yang biasanya dimiliki oleh institusi tertentu seperti bank atau pemerintah, Blockchain justru bukan milik siapa-siapa. Membuatnya lebih transparan karena bisa diakses oleh siapa saja.

Blockchain ini merupakan sistem pencatatan yang tersebar luas di jaringan (distributed ledger). Seperti buku kas induk di bank yang mencatat semua transaksi nasabah,Blockchain juga mencatat semua transaksi yang dilakukan penggunanya.

Hanya saja, jika buku kas induk cuma boleh dilihat dan dicek oleh pihak berwenang di bank, maka semua transaksi lewat Blockchain bisa dilihat oleh semua penggunanya. Sebab gudang informasi Blockchain tersimpan permanen di seluruh jaringan penggunanya, karena informasi yang dikumpulkan juga didistribusikan ke semua orang.

Saat ini, ada dua perusahaan yang menggunakan teknologi ini, yaitu Te-Food International dari Jerman yang bekerjasama dengan Halal Trail dan HLC Technologies yakni sebuah perusahaan yang berpusat di Uni Emirat Arab.

“Penggunaan teknologi ini dapat menjawab persoalan yang muncul dalam pelacakan produk halal dirantai pasok,” terang Wakil Direktur LPPOM MUI, Ir. Sumunar Jati seperti dikutip dari majalah foodreview edisi XIV.

Meskipun produk pangan halal telah berbentuk barang jadi, namun masih terdapat risiko terkontaminasi komponen yang haram. Misalnya, selama proses pendistribusian tercampur dengan barang yang haram.

Teknologi blockchain memungkinkan pelacakan secara detail selama proses rantai pasok.Sehingga kita mampu mendeteksi apakah produk pangan ini masih halal atau haram.