Petani Padi di Kabupaten Badung Terancam Gagal Panen, Ini Penyebabnya

Ilustrasi Petani/agroindonesia.co.id

PANGANGIZI.COM – Petani Padi  di Badung khususnya di Subak Citra Bongkasa, Desa Bongkasa Abiansemal Badung terancam gagal panen.

Hal itu dikarenakan curah hujan yang begitu tinggi

Hal itu dirasakan salah satu petani I Putu Parwata saat ditemui di  sawahnya.

Ia mengakui jika dirinya tidak bisa berbuat banyak.

Padi jenis Inpari yang ditanamnya kini terancam gagal panen.

Mengingat dengan usia dua bulan, padi miliknya sudah terlihat kering dan tidak subur.

“Kalau seperti ini terus, pasti gagal panen. Karena padi sudah terlihat kering dan kurus,” ujarnya saat ditemui Jumat 31 Desember 2021.

Dirinya mengatakan untuk padi jenis Inpari 32 memang perawatannya sedikit susah.

Bahkan tidak boleh terus terkena air. Namun saat ini hujan kerap terjadi sehingga pupuk yang sebelumnya ditabur hilang.

“Kalau tidak curah hujan tinggi, sebenarnya hasilnya sangat bagus. Namun jika terus terjadi hujan, maka tumbuh padi pun tidak bagus,” tegasnya.

Pria asal Banjar Tegehan, Desa Bongkasa itu mengakui dengan luas lahan 24 are biasanya ia mampu panen gabah sebanyak 24 karung.

Hanya saja jika kondisi padi seperti sekarang, maksimal gabah yang dihasilkan  hanya 8 karung.

“Jadi jeblok sekali jika gagal panen. Apalagi hama juga banyak, seperti tikus dan walang sangit,” katanya sambil menunjuk padi yang terserang hama.

Untuk mengelola lahan seluas 24 are, pihaknya mengaku harus menyiapkan anggaran Rp 2 juta.

Semua itu digunakan untuk pembibitan, membeli pupuk, membajak sawah, menanam maupun panen.

“Jika saya mendapat 8 karung, maka uang yang saya dapat sebesar Rp 1,6 juta. Mengingat harga gabah sekarang 4 ribu, dan satu karung isinya hanya 50 kg,” bebernya.

Pihaknya mengaku sangat rugi jika panen sedikit. Kendati demikian pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

Ditanya, apakah akan beralih ke tanaman yang lain, seperti bunga, cabai atau terong Parwata mengaku tetap akan menanam padi.

Pasalnya untuk beralih, dirinya harus mempunyai data yang lebih.

“Modal saya tidak punya, Tapi kalau pada boleh beda. Dulu saya kan pakai bibit 64 sumatra. Hanya saja pohonnya sangat kecil dan hasilnya tidak bagus,” ucapnya.

Kendati demikian, Parwata mengaku untuk padi dari tanam sampai panen membutuhkan waktu 4 sampai 4,5 bulan.

Meski mengalami kerugian, pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak, mengingat lahan tersebut merupakan lahannya sendiri.

“Ini lahan warisan, kalau tidak digarap kasihan lahannya. Karena seputaran di sini sudah banyak perumahan sehingga hama juga banyak sekali,” ucapnya. (*)

Artikel ini telah tayang di tribunnews.com dengan judul ‘Curah Hujan Tinggi, Petani di Subak Citra Bongkasa Badung Terancam Gagal Panen’ https://bali.tribunnews.com/2021/12/31/curah-hujan-tinggi-petani-di-subak-citra-bongkasa-badung-terancam-gagal-panen?page=2