Mendeteksi Ingredient Haram

Mendeteksi komponen haram dalam ingredien tentu dengan cara penelusuran dan analisa laboratorium. Tidak bisa secara kasat mata.

Fokusnya adalah analisa adanya komponen babi dalam ingredient produk pangan.

Dikutip dari Foodreview Indonesia Vo. XIV,  dikemukakan oleh Norrakiah et al (2015) bahwa analisa kehalalan bahan baku sampai produk bisa menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Metode ini dikembangkan untuk mendeteksi gen porcine dalam suatu produk pangan.

Polymerase chain reaction (PCR) adalah metode yang banyak digunakan dalam biologi molekuler untuk membuat banyak salinan segmen DNA tertentu.

Menggunakan PCR, salinan sekuens DNA secara eksponensial diperkuat untuk menghasilkan ribuan hingga jutaan salinan lebih banyak dari segmen DNA tertentu.

PCR sekarang merupakan teknik yang umum dan sering diperlukan dalam penelitian medis dan laboratorium klinis untuk berbagai aplikasi termasuk penelitian biomedis dan forensik kriminal.

Aplikasi teknik ini termasuk kloning DNA untuk sekuensing, kloning dan manipulasi gen, mutagenesis gen; konstruksi filogeni berbasis DNA, atau analisis fungsional gen;

Selain itu untuk iagnosis dan pemantauan penyakit keturunan; amplifikasi DNA kuno; analisis sidik jari genetik untuk profiling DNA ; dan deteksi patogen dalam tes asam nukleat untuk diagnosis penyakit menular.

Dengan metode PCR ini, diharapkan kita mampu menemukan gen porcine dalam ingredient yang kita uji kehalalannya.

Jika kita menemukan gen tersebut, maka ingredient pangan pastinya haram.

Namun demikian, ada saja orang yang menggunakan ingredient yang belum dijamin kehalalannya seperti plasma darah, transglutaminase dan gelatin.

Kadang ingredient ini sengaja ditambahkan ke dalam produk pangan seperti bakso dan surimi.

Untuk itu analisis dibutuhkan untuk menjamin produk pangan bebas dari yang haram.

Alquran (QS 2:168) mengamanahkan konsep halal toyyiban. Artinya selain halal, pangan juga harus memiliki kualitas yang baik, aman, bergizi dan menyehatkan konsumen.

Semakin cerdas konsumen semakin selektif terhadap pangan halal dan toyyib.