Hadirnya Teknologi Pertanian di Kalteng Berdampak Signifikan Terhadap Petani, Terutama Perilaku Mengolah Tanaman Padi

ILustrasi Teknologi Pertanian/antaranews.com

PANGANGIZI.COM – Berita Nasional yang dikutip PANGANGIZI.COM tentang hadirnya Balitbangtan memberi dampak signifikan terhadap petani Kalteng.

Sektor pertanian Indonesia biasanya tidak pernah lepas dari permasalahan yang setiap tahunnya selalu membuat petani kesulitan.

Salah satu masalah sektor pertanian di Indonesia adalah teknologi pertanian.

Sehingga dengan hadirnya teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) khususnya  di Kalimantan Tengah (Kalteng) memberi dampak signifikan terhadap petani, terutama pada perilaku dalam mengolah tanaman padi.

Hal tersebut diakui Nor Dahniar, petugas penyuluh pertanian dari Desa Petak Batuah, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas.

Menurutnya, hadirnya paket teknologi Balitbangtan berhasil menggerakkan petani dari kebiasaan lama, khususnya dalam penggunaan varietas dan pengolahan lahan.

“Tadinya petani di sini menanam padi lokal yang panennya setahun sekali, tapi sekarang mereka sudah mulai berubah menjadi setahun dua kali karena yang ditanam adalah varietas unggul yang umurnya lebih pendek,” kata Nor dalam siaran pers Kementan, diterima Republika, Senin (29/3).

Menurut Nor, sejak dikenalkan dengan mekanisasi pertanian, ditambah dengan adanya bantuan dari Kementerian Pertanian, para petani di wilayahnya pun menjadi sangat terbantu.

“Dalam mengolah lahan pun petani merasa terbantu karena adanya sarana produksinya dan alsintan termasuk mesin perontok yang disediakan oleh pemerintah,” tambahnya.

Nor mencontohkan, di desanya terdapat satu kelompok tani tidak pernah menanam padi unggul, namun kini mereka mulai menanam varietas unggul baru (VUB) padi Inpari 42 di lahan seluas 20 hektare.

Saat memasuki masa panen, produktivitas yang dihasilkan mencapai 5 ton per hektare berdasarkan ubinan.

Jumlah tersebut sangat meningkat dibanding hasil sebelumnya sekitar 1,5 ton per hektare dan dipanen hanya sekali dalam setahun.

Masih menurut Nor, tidak mudah mengubah kebiasaan petani yang telah diterapkan selama puluhan tahun.

Untuk itu perlu pendampingan secara terus menerus agar petani bisa menerima teknologi yang bisa berdampak pada penghasilan mereka.

Dalam mengenalkan varietas baru, para penyuluh bersama Balitbangtan harus membuat demplot.

Dari demplot tersebut petani dapat melihat padi unggul yang memiliki umur pendek dan nilai ekonomis tinggi.

“Dari demplot itulah mereka percaya. Kalau kita hanya mengajak yuk tanam varietas unggul, mereka tidak akan percaya.

Mereka akan berpikiran bahwa padi unggul itu menjualnya susah, harganya rendah dan rasanya kurang sesuai,” jelas Nor.

“Jika masih ada yang tetap ingin menanam varietas lokal, kita persilakan untuk konsumsi sendiri, namun varietas unggul patut dicoba dan hasilnya dijual, karena harga di pasaran juga cukup bersaing,” katanya menambahkan.

Peneliti Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Susilawati menjelaskan, di Kalimantan Tengah tingkat adopsi teknologi ditingkat petani berbeda-beda, untuk itu perlu adanya pendampingan serta menyediakan demplot di setiap titik agar para petani merasa dekat dengan teknologi yang dihadirkan.

Adapun teknologi yang dimaksud adalah pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT) padi rawa yang disebut dengan RAISA (Rawa Insentif Super Aktual).

Dalam RAISA, terdapat komponen teknologi yang sudah dihasilkan Balitbangtan seperti penggunaan varietas, penggunaan amelioran, sistem tata air, rekomendasi pemupukan serta pengendalian hama penyakit berdasarkan spesifik wilayah.

Berdasarkan kajian khusus yang telah dilakukan Balitbangtan di lahan rawa lima kabupaten di Kalteng, dari beberapa komponen RAISA, salah satu komponen teknologi yang sulit diadopsi petani itu adalah pengelolaan tata air.

Sementara yang paling mudah diterima adalah varietas dan cara tanam jajar legowo.

“Untuk varietas unggul dan cara tanam jajar legowo hampir semua petani telah mengimplementasikannya secara mandiri, tapi untuk pengelolaan air masih sulit diadopsi karena perlunya keterlibatan pihak lain dalam pembangunan infrastrukturnya,” ungkap Susi.

Sebagai solusi, petani diminta untuk menyiapkan petakan dan pintu-pintu air malalui program Padat Karya. “Melalui Padat Karya kita bisa berdayakan petani.

Mereka sudah memahami bagaimana tata air satu arah yang baik di lahan rawa, tapi kalau pintunya tidak tersedia seperti apa? Nah untuk itu harus lebih kita giring lagi mereka untuk dapat mengelola air dari petakan perorangan maupun petakan kelompok atau gabungan kelompok taninya,” kata Susi. (*)

Artikel ini telah tayang di republika.co.id dengan judul ‘Teknologi Balitbangtan Ubah Kebiasaan Petani’ https://www.republika.co.id/berita/qqpg9k423/teknologi-balitbangtan-ubah-kebiasaan-petani-part1